Mengenal Muslim Uighur yang Ditahan China 'Sewenang-wenang' - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Mengenal Muslim Uighur yang Ditahan China 'Sewenang-wenang'

Mengenal Muslim Uighur yang Ditahan China 'Sewenang-wenang'

Xinjiang, NU OnlinePada Agustus lalu, Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data kalau sekitar satu juta Muslim Uighur ‘ditahan’ di…

Mengenal Muslim Uighur yang Ditahan China 'Sewenang-wenang'

Xinjiang, NU OnlinePada Agustus lalu, Badan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data kalau sekitar satu juta Muslim Uighur ‘ditahan’ di sebuah kamp interniran di Xinjiang. Mereka ditahan sewenang-wenang tanpa proses formal dan dipaksa menjalani ‘pendidikan politik’ atau ‘indoktrinasi politik.’
Sementara sebuah lembaga hak asasi manusia yang bermarkas di New York, Human Right Watch, menyebutkan Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam selama berada di kamp rahasia itu. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak, mereka akan dihukum. Tidak mendapat jatah makanan, berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.
Tidak hanya sampai di situ, diberitakan Muslim Uighur juga dilarang mengenakan jilbab, memelihara jenggot, dan melakukan ritual-ritual keagamaan di depan umum. Bahkan, rumah-rumah me reka di wilayah Xinjiang dipasangi kode QR sebagai upaya untuk mengontrol populasi dan aktifitas Muslim Uighur.
China diketahui memang sangat ketat terhadap Muslim Uighur. Berbagai kebijakan dikeluarkan untuk ‘membatasi kebebasan beragama’ Muslim Uighur. China berdalih, langkah-langkah itu ditempuh untuk mengantisipasi kelompok-kelompok Islam militan dan separatis yang menyasar Muslim Uighur. Selain itu, ‘penahanan’ Muslim Uighur di kamp itu dimaksudkan untuk menempa mereka dalam ‘pendidikan politik’ dan melatih kejuruan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Namun yang menjadi pertanyaan, siapa sebetulnya Muslim Uighur ini? Mengapa mereka begitu dikekang oleh China?
Dikutip Deutsche Welle Indonesian, Muslim Uighur adalah etnis minoritas yang ada di China. Mereka menganggap dirinya lebih dekat dengan bangsa Turki di Asia Tengah dalam hal budaya, dari pada dengan bangsa Han, etnis mayoritas di China.
Muslim Uighur terpusat di Xinjiang, sebuah provinsi terbesar di China. Secara administrastif, Xinjiang merupakan sebuah wilayah yang otonom. Namun Beijing tetap mengontrol wilayah tersebut. Yakni dengan menerbitkan peraturan-peraturan yang memberatkan Muslim Uighur dalam menjalankan ajaran agamanya.
Sebetulnya, Muslim Uighur sudah berabad-abad mendiami wilayah yang dilewati jalur sutra itu. Bahkan pada awal abad ke-20, Muslim Uighur mendeklarasikan kemerdekannya dengan nama Turkestan Timur. Akan tetapi, Mao Zedong berhasil menarik kembali Xinjiang ke dalam wilayah kedaulatan China pada 1949.
Jumlah Muslim Uighur di Xinjiang terus ‘tergerus’, sementara populasi etnis Han semakin meningkat. Dilaporkan, populasi etnis Han di Xinjiang pada 1949 hanya berkisar 6 persen. Sementara pada 2010, jumlah tersebut naik menjadi 40 persen. Bahkan di utara Xinjiang sebagai pusat ekonomi, Muslim Uighur menjadi minoritas di tanah sendiri.
Salah satu isu yang menyebabkan China keras terhadap Muslim Uighur adalah soal separatisme. Gera kan Islam Turkestan Timur (ETIM) dinilai sebagai kelompok Islam yang getol memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang. Selain ETIM, ada Partai Islam Turkestan yang diduga memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.
Merujuk BBC, ekonomi dan kultural adalah akar dasar perselisihan atau ketegangan antara Muslim Uighur dan etnis Han. Memang, Xinjiang dikenal sebagai sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Maka tidak heran jika Beijing ‘tidak rela’ kalau Xinjiang lepas. Ratusan triliuan telah digelontorkan untuk investasi di Xinjiang. Ini membuat penduduk China yang berpendidikan tinggi, utamanya etnis Han, berbondong-bondong ke Xinjiang. Di satu sisi, kondisi ini membuat makmur etnis Han. Tapi di sisi lain, menyebabkan Muslim Uighur yang tidak mendapatkan bantuan dan akses pendidikan yang baik semakin tersisihkan.
Di China, ada etnis Hui yang mayoritas memeluk agama Islam, selain etnis Uighur. Meski sama-sama Muslim, tapi keduanya memiliki nasib yang berbeda. Jika Muslim Uighur dite kan dan ditindas, maka Muslim Hui begitu ‘dimanja.’ Muslim Hui, yang secara budaya dan bahasa dekat dengan etnis Han, banyak menikmati kebebasan sipil seperti membangun masjid, sekolah, dan lainnya.
Selain di Xinjiang, populasi etnis Uighur juga tersebar di beberapa negara lain seperti Kazakhstan, Kirgiztan dan Uzbekistan. (Red: Muchlishon)Sumber: Google News Muslim Network: Koranmu Indonesia