Perjalan Politik Khofifah Indar Parawansa Sejak Belum Lulus S1 - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Perjalan Politik Khofifah Indar Parawansa Sejak Belum Lulus S1

Sosok Khofifah Indar Parawansa Gubernur Perempuan Jawa Timur yang dilantik, Rabu (13/2/2019)  pantas disebut politisi perempuan ulung yang matang.

Wanita berusia 54 tahun ini bahkan sudah berkiprah memulai karirnya sebagai polit…



Sosok Khofifah Indar Parawansa Gubernur Perempuan Jawa Timur yang dilantik, Rabu (13/2/2019)  pantas disebut politisi perempuan ulung yang matang.

Wanita berusia 54 tahun ini bahkan sudah berkiprah memulai karirnya sebagai politisi di tahun 1992.

Ia mencatat sejumlah sejarah termasuk menjadi legislator termuda di DPR RI dengan berusia 26 tahun.

Khofifah tercatat terjun ke dunia politik langsung selepas lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Khofifah sudah dicetak sebagai tokoh muda yang aktif dan kritis. Sepak terjang Khofifah di dunia politik diawali dari keaktifannya di dunia pergerakan.

(Khofifah dan Emil Dilantik Hari Ini, Berikut Pesan dari Pemuda Muhammadiyah Jatim)

(Usai Jadi Gubernur, Pakde Karwo Lebih Memilih Jadi Dosen & Menulis Buku Paham Baru di Bidang Ekonomi)

Khofifah muda banyak aktif di sejumlah organisasi. Saat masih SMA di SMA Khadijah Khofifah sudah dipercaya sebagai bendahara Muslimat NU.

Begitu juga saat kuliah. Khofifah diketahui aktif di organisasi Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Bahkan ia dipercaya sebagai Ketua Cabang PMII Surabaya yang sekaligus ketua cabang PMII perempuan pertama di Indonesia.

Tentu jabatan strategis di era mahasiswa serta statusnya sebegai perempuan banyak menuai kendala.

Khofifah sempat bercerita saat menjadi ketua cabang perempuan pertama PMII itu, banyak seniornya yang tidak suka, menolak, bahkan menentang.

Namun semua dibungkam oleh etos kerja Khofifah yang sejak muda memang sudah ulet dan tak mudah menyerah.

Salah satu buktinya, saat awal di bawah kepengurusan Khofifah di PMII Surabaya, saat itu baru ada dua komisariat di PMII.

Saat roda organisasi PMII Surabaya ia jalankan, Khofifah membuktikan kapasitasnya.

Ia berhasil mengembangkan organisasi PMII menjadi 17 komisariat.

(Purna Tugas, Gus Ipul Titip Khofifah Indar Parawansa Perhatikan Dua Hal di Jawa Timur)

(Gelar Acara Pamitan, Pakde Karwo Beberkan Hal-hal Membanggakan dari Masyarakat Jawa Timur)

Meski banyak aktif di organisasi pergerakan mahasiswa, jangan dikira Khofifah muda lebih sering meninggalkan bangku kuliah.

Saat tengah menempuh pendidikan di Fisip Unair tahun 1984-1991, Khofifah juga kuliah di kampus berbeda dengan mengambil jurusan yang berbeda pula.

Sembari kuliah di Fisip Unair, Khofifah juga tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Dahwah di Sekolah Ilmu Dahwah Surabaya sejak 1984 hingga 1989.

Khofifah kuliah di dua jurusan sekaligus di waktu yang sama. Dan masih aktif dengan segudang kesibukan berorganisasi guna mengasah ilmunya.

Singkat cerita, apa yang dikerjakannya selama muda membuat partai besar saat itu, Partai Persatuan Pembangunan, tertarik pada sosok Khofifah.

Bahkan, belum juga lulus dari Unair, Khofifah sudah dilamar PPP dengan menyodorkan pilihan tiga lembar formulir pendaftaran calon legislator.

"Satu di tingkat kabupaten kota, satu tingkat provinsi, dan satu lagi tingkat pusat DPR RI. Saya memutuskan mengambil yang pusat dan alhamdulillah terpilih," kata Khofifah mengenal awal mula kiprahnya di politik pemerintahan.

(Jalan Panjang Khofifah Jadi Gubernur Jawa Timur, Bukan Ambisi Melainkan Dorongan Para Kiai)

(Dekan FISIP UNAIR : Khofifah Mampu Membawa Jatim Lebih Dinamis)

Behind the scene pengambilan keputusan itu, sebenarnya Khofifah mengaku sempat bingung. Pertama ia merasa tidak pantas untuk langsung terjun menjadi wakil rakyat.

Ia menyerahkan keputusan itu pada ibu nyainya di Surabaya. Hingga akhirnya ia mantap memilih daftar calon legislatif DPR RI.

Sangat muda. Bahkan Khofifah tercatat sebagai legislator termuda bahkan hingga sekarang.

Begitu dilantik sebagai anggota DPR RI, saat itu Khofifah yang masih muda di usia 27 tahun langsung dipercaya sebagai pimpinan fraksi PPP sekaligus menjabat sebagai pimpinan komisi.

Berangkat dari partai Islam, PPP, masih muda dan perempuan tentunya bukan hal yang mudah bagi Khofifah.

Ada banyak politisi senior, bahkan ada sekitar 15 orang guru besar di jajaran anggota legislatif. Serta banyak pula anggota DPR RI yang berangkat dari jajaran milier setingkat mayor jenderal.

Banyak dari mereka masih belum bisa menerima pemimpin perempuan.

Namun, lagi-lagi semua dibuat bungkam oleh Khofifah dengan kiprah yang ditunjukkan dan dedikasinya yang tinngi.

Maka ia diterima baik oleh politisi senior yang ada di DPR RI.

(Khofifah Dikenal Pendobrak Dominasi Pria Gerakan Mahasiswa, Inilah Penuturan Kader PMII)

(10 Tahun Jadi Gubernur Jatim, Pengalaman Bareng Marsinah Ini yang Paling Berkesan Bagi Pakde Karwo)

"Saya di DPR RI pernah di komisi bidang migas, industri dan bumn, sosial kesehatan. Mengapa banyak karena saya anggota dewan empat periode," kata Khofifah.

Selama menjadi anggota DPR RI dari PPP, Khofifah menampilkan performa terbaik. Khofifah tercatat dua kali mendukui posisi pimpinan.

Ia menjadi Pimpinan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI (1992–1997). Lalu juga menjadi Pimpinan Komisi VIII DPR RI (1995–1997).

Perjalanan Khofifah di dunia politik bukan hanya berhenti di satu partai saja. Setelah tujuh tahun bergabung dengan PPP yang telah membesarkan namanya, Khofifah memutuskan keluar dari PPP.

Khofifah yang saat itu anggota DPR RI mendapatkan berbagai fasilitas rumah dinas rela harus melepas segala fasilitas yang ia miliki lantaran dipanggil oleh KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur.

Secara khusus Gus Dur memanggilnya dan diajak untuk mendirikan partai baru yang dinyatakan sebagai partai NU, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Meninggalkan partai besar PPP untuk sebuah partai baru yang belum jelas elektabilitas dan akseptabilitasnya tentu bukan suatu yang mudah.

Terlebih saat itu Khofifah sudah duduk anteng dan mendapat posisi strategis di DPR RI.

(Purna Tugas, Gus Ipul Titip Khofifah Indar Parawansa Perhatikan Dua Hal di Jawa Timur)

(VIDEO: Pesan dan Kesan Ari Lasso Pada Pakde Karwo Serta Harapan untuk Khofifah Indar Parawansa)

Tapi, begitulah Khofifah. Sosok wanita yang bahkan tidak pernah nyantri di pondok pesantren ini begitu taat pada apa kata kiai dan gurunya.

Khofifah memang tidak pernah nyantri. Tapi kalau berguru ke banyak kiai, Khofifah sudah lalui itu.

Atas dasar taat kiai dan tidak ingin membantah, Khofifah mantap untuk meninggalkan posisinya yang prestisius sebagai anggota DPR RI.

Ia meninggalkan PPP untuk PKB atas permintaan kiai, Gus Dur.

"Coba dipikir hayo," ucap Khofifah dan terdiam lama.

"Yang hebat itu suami saya. Yang mengizinkan istrinya mengambil keputusan ya yang gambling. Coba bayangkan, saya punya anak tiga lho waktu itu, harus pindah meninggalkan rumah dinas ke rumah kontrakan karena nggak punya rumah. Untuk memenuhi panggilan Gus Dur," kata Khofifah.

Ya di tahun 1999, Khofifah membantu Gus Dur untuk mendirikan partai baru yang saat ini dikenal sebagai PKB.

Dari sanalah Khofifah mulai aktif di partai PKB. Oleh Gus Dur Khofifah diminta untuk masuk dalam pengurus PKB.

Ia juga ikut mendaftar sebagai wakil rakyat untuk kembali masuk ke DPR RI. Dan benar saja, karirnya cukup cemerlang selama menjadi wakil rakyat dari partai PKB ini.

Begitu maju dari PKB, Khofifah terpilih dan menjadi anggota Komisi II DPR RI di tahun 1997 hingga 1998.

Di tahun 1999 bahkan Khofifah juga sempat menjabat sebagai pimpinan DPR RI, tepatnya sebagai Wakil Ketua DPR RI.

(Kenakan Pakaian Cokelat Senada, Gus Ipul Temui Khofifah Indar Parawansa Bahas Pramuka)

(Sowan ke Kediaman Khofifah Indar Parawansa, Gus Ipul Disuguhi Duren Wonosalam yang Legit)

Tidak hanya itu, Khofifah juga dipercaya menjabat Sekretaris Fraksi PKB di MPR RI di tahun 1999 hingga akhirnya diminta oleh Gus Dur menjadi Menteri Pemberdayaa Perempuan di tahun 1999-2001.

"Saat itu saya sudah menolak. Wong saya ini yang ditugasi menelfon calon menteri. Jadi saat itu yang seharusnya menjadi Menteri Peranan Wanita adalah orang lain. Tapi beliau lalu menolak, pada saya dia bilang 'I am too old tob be a minister," kata Khofifah.

Ia lalu bertanya pada orang tersebut siapa menurutnya layak dicalonkan sebagai menteri dan yang ia menjawab yang cocok adalah Khofifah.

Sampailah kabar itu ke telinga Gus Dur.

Keesokan harinya Khofifah langsung menghadap Gus Dur dan meminta agar dirinya tidak dimasukkan dalam kabinet dengan menjadi Menteri Peranan Wanita.

"Saya bilang ke Gus Dur, sudah saya di DPR RI saja, kan saya waktu itu Wakil Ketua DPR RI," imbuh Khofifah.

Namun tampaknya Gus Dur adalah sosok yang tidak mudah berubah pikiran.

Ia kembali meminta Khofifah untuk menerima jabatan menteri.

Akhirnya atas dasar taat pada guru dan kiai, Khofifah lagi-lagi pasrah dan manut dengan perintah Gus Dur. Namun ia mengajukan syarat.

(10 Tahun Jadi Gubernur Jatim, Pengalaman Bareng Marsinah Ini yang Paling Berkesan Bagi Pakde Karwo)

(Gus Ipul Siap Dampingi Khofifah Indar Parawansa di Program 99 Hari Pemerintahan Pertama)

Khofifah meminta agar nama kementeriannya diubah tidak lagi Menteri Peranan Wanita namun diganti menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Caranya menjelaskan rasionalisasi pada Gus Dur pun tidak susah.

"Gus Dur kalau peranan wanita itu bahasa Inggrisnya Womens Role, sedangkan kalau pemberdayaan perempuan itu Women Empowerment," kata Khofifah dan Gus Dur sepakat.

Mungkin saat itu Gus Dur nyeleteuk, 'Gitu aja kok repot.'

Tidak sampai di sana, kiprah Khofifah di era Gus Dur bukan hanya ia dijadikan sebagai menteri negara.

Di saat yang bersamaan pula, Khofifah juga diminta Gus Dur untuk menjadi Kepala BKKBN.

Pemilihan Khofifah untuk menduduki jabatan itu ternyata cukup menarik.

Beberapa waktu sebelum ia dipilih sebagai Kepala BKKBN, ia diminta oleh ibu dari Gus Dur untuk mencari undang-undang yang berhubungan tentang ketahanan keluarga.

Tentu saja di era reformasi kala itu, teknoligi digital tidak semaju saat ini yang tinggal googling dan download.

Saat itu Khofifah harus menjelajahi arsip-arsip lebih dulu.

(KPU Kabupaten Sampang Belum Terima Surat Suara Pemilu 2019, Syamsul Muarif: Insyaallah Minggu ini)

(Hobi Judi, Pria Asal Bojonegoro Nekad Mencuri Motor Mertua Dua Kali, Motornya Dijual Rp 4 Juta)

Meski sudah menemukan apa yang diminta oleh ibu Gus Dur, ternyata ia tidak bisa menyerahkannya kepada ibu Gus Dur lantaran ibu Gus Dur sudah terlebih dulu dipanggil ke haribaan Allah.

"Akhirnya menghadaplah Khofifah ke Gus Dur untuk menyampaikan amanah yang sempat diminta sang ibu. Saya bilang begitu kok malah Gus Dur mengutus saya untuk sekalian jadi Kepala BKKBN," kata Khofifah.

Tentu, Khofifah tak lantas menerima tawarkan yang lebih mirip dengan perintah itu.

Khofifah mengatakan saat itu ia sudah punya anak tiga. Sedangkan jargon yang ramai digalakkan oleh BKKBN adalah 'dua anak cukup'.

Yang namanya Gus Dur, Khofifah mengatakan ia tak langsung menerima alasan Khofifahh yang ingin menolak.

Sebaliknya, Gus Dur justru memberikan saran untuk mengganti slogan yang dimiliki BKKBN. Dari 'dua anak cukup' menjadi 'keluarga sejahtera'.

Sekali lagi ya, mungkin saat itu Gus Dur juga mbatin 'gitu aja kok repot'.

(Sowan ke Kediaman Khofifah Indar Parawansa, Gus Ipul Disuguhi Duren Wonosalam yang Legit)

(Gus Ipul Siap Dampingi Khofifah Indar Parawansa di Program 99 Hari Pemerintahan Pertama)

"Gitu itu lho. Saya saat jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN, hamil lagi. Saya kembali matur Gus Dur. Saya bilang, Gus saya hamil lagi. Dan Gus Dur menjawab, 'Ya nggak apa-apa Mbak Khofifah, wong ada suaminya'," urai Khofifah sembari tertawa.

Pulang dari sowan itu Khofifah diberi oleh-oleh dari Gus Dur, yakni sebuah sarung milik Gus Dur.

Sarung itu diklaim ampuh membantu orang  bersalin. Wanita yang sedang bersalin disebut tak akan mengalami rasa sakit berlebihan ketika mengenakan sarung itu.

Entah sugesti atau bagaimana, Khofifah mengaku saat melahirkan tidak merasa kesakitan.

"Ya mungkin itulah walinya Gus Dur. Sarung itu mutar sudah di kementerian dipakai siapa-siapa sampai saya sendiri nggak tahu sekarang posisinya di mana," kata Khofifah tertawa.

Dua tahun dilalui Khofifah menjabat dua posisi strategis tersebut. Hingga akhirnya Gus Dur dimakzulkan di tahun 2001.

(Pedagang Pasar Brondong Ngluruk PD Pasar Lamongan, Minta Kepastian Kapan Tempati Kios Pasca Direhab)

(Khofifah Indar Parawansa: Tambahan Suara JKSN untuk Jokowi-Maruf Amin Sangat Signifikan)

Lepas dari jabatan tersebut tak membuat Khofifah berhenti berkarir di dunia politik. Ia kembali mencalonkan diri sebagai calon legislatif dari PKB di tahun 2004.

Ia masuk di Komisi VII DPR RI dan dipercaya sebagai ketua komisi. Selain itu Khofifah juga menjadi Ketua Fraksi PKB di MPR RI hingga tahun 2006.

Yang kemudian ia maju dalam Pilgub 2008 dan 2013. Setelah itu ia juga dipilih sebagai Menteri Sosial di Kabinet Kerja oleh Presiden Joko Widodo. Dan menjabat hingga tahun 2018.

Khofifah lalu mengikuti Pilgub Jawa Timur 2018 bersama Emil Elestianto  Dardak.

Pasangan Khofifah - Emil ditetapkan KPU sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024 setelah mengalahkan pasangan Saifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno dalam Pilgub Jatim 27 Juni 2018 lalu.

Dalam Pilgub Jawa Timur 2018, Khofifah-Emil mendapatkan suara sebanyak 10.465.284 suara masyarakat Jawa Timur atau 53.55 persen.

Keduanya dilantik sore ini di Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo.

Sumber: http://jatim.tribunnews.com/2019/02/13/perjalanan-politik-khofifah-indar-parawansa-belum-lulus-s1-sudah-disodori-3-formulir-pencalegan.

Tidak ada komentar