Iklan

Redaksi KoranMu
03 Juni, 2021, 16.20 WIB
Last Updated 2021-06-03T09:20:55Z
Opini

Urgensi Pancasila Bagi Generasi Z


Deni Nuryadin

Dalam teori manajemen sederhana bahwa idealnya suatu proses rencana yang  akan dijalankan apabila memiliki pedoman dalam memproses suatu aktifitas, seperti proses  menanamkan, proses menghayati dan  tahap akhir proses yakni mengamalkan pedoman tersebut.  

Seringkali banyak orang terjebak hanya  fokus  pada hasil dari pelaksanaan  pedoman semata, seringkali  terlupakan akan proses apakah proses penanaman dan proses penghayatan  sudah terlaksana dengan baik. Sebagai contoh rendahnya pelaksanaan pedoman bisa jadi karena ada proses yang tidak memenuhi standard dari proses sebelumnya. Atau bahkan sebaliknya tahap proses penanaman dan tahap proses penghayatan sudah terlaksana dengan baik namun tingkat pelaksanaan pedoman dibawah prosentase yang diharapkan maka hal ini dipengaruhi pula oleh banyak faktor yakni adanya  eksternal dan faktor internal, yang mempengaruhinya  contoh dari faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pelaksanaan suatu pedoman adalah seperti gencarnya budaya dan informasi yang datang dari luar yang sulit dibendung.  Maka peran pemuka agama dan tokoh negara sangat boleh jadi menjadi benteng berlapis dalam  memfilter informasi yang masuk. 

Negara  dengan kebijakannya mengatur dan membatasi arus informasi yang masuk sedangkan para pemuka agama senantiasa memberikan nasehat-nasehat (tausiyah) kepada masyarakat bahwa betapa pentingnya kita seluruh bangsa Indonesia dalam memilih dan memilah informasi sekaligus mempertebal iman sehingga kita ( imun ) terhadap  pengaruh budaya  luar dan informasi yang masuk yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.  Lebih lanjut jika kita telaah potongan  kalimat  diawal dalam tulisan ini maka terdapat tiga kata kunci. Ketiga kata itu adalah ( menanamkan, menghayati dan mengamalkan )  Kata menanamkan mengandung banyak makna, bisa bermakna pada adanya aktifitas dalam rangka memberikan informasi, edukasi, sosialisasi dan memberikan pemahaman agar penerima informasi dapat memahami betapa pentingnya informasi ini bila diketahui.

 Fungsi-fungsi di atas bisa juga sebagai upaya ( literasi ). Kata menanamkan dapat pula bermakna pada menaburkan benih-benih nilai-nilai yang diharapkan,  sehingga senantiasa dapat menyemangati atau dapat memelihara nilai-nilai yang sudah tertanam.   Bagaimana literasi saat ini  yang dapat menghantarkan kepada banyak orang khusus kepada ( generasi Z )sebagai penerus bangsa kedepannya. 

 Generasi Z sedang berproses, merupakan suatu kondisi dimana semua orang dengan mudahnya (tanpa bersusah payah) mendapatkan informasi. Informasi yang dapat diakses oleh semua orang  dengan mudahnya didapatkan. Kemudahan dan kecepatan serta kreatifitas  dalam menyampaikan informasi akan menjadi penentu sebagai pemenang dalam meraih minat orang mengakses informasi atau berita yang telah tersaji di media dari beberapa pemangku kepentingan.  Maka penyampaian informasi dalam menanamkan nilai-nilai pancasila juga harus berlaku sama perlunya untuk menggunakan cara-cara kekinian tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung. Begitu pula dalam   menghantarkan informasi maka penyajian  literasi  harus mengikuti perkembangan dari  minat generasi Z saat ini guna mengajak dan  menarik mereka untuk  membuka kemudian melihat dan membacanya,. Maka penyajian yang menarik dan kreatif dengan tetap mengandung nilai-nilai yang ada di dalam pancasila  akan menjadi salah satu cara yang bisa diupayakan. 

Dengan demikian menggunakan  teknologi informasi berbasis internet merupakan keniscayaan dalam memenangkan perang informasi ( information war ). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini generasi Z dalam kehidupan sehari-harinya dengan mudahnya  mendapatkan informasi melalui  gadget atau handphone yang hampir dimiliki oleh semua anak muda.  Kata kedua dalam rangkaian kalimat diawal tulisan ini adalah adanya kata menghayati. 

Menghayati dapat berarti ikut merasakan karena adanya kondisi tertentu diluar diri kita  yang ada dalam bathin dan dipikirkan. Di dalam proses menghayati  terkandung pula upaya untuk memahami suatu informasi yang diterimanya  Salah satu cara dalam memberikan pembelajaran proses  menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila adalah dengan memberikan contoh hikmah dari setiap perjalanan sejarah di Indonesia dan belahan dunia lain, misal sebut saja negara x dimana  negara tersebut marak dengan tindakan korupsi maka bisa dipastikan negara tersebut akan terpuruk dan miskin serta akan  terhambat untuk maju sehingga dapat dikatakan bahwa tindakan korupsi merupakan tindakan kejahatan manusia yang luar biasa. 

Maka Ilustrasi tindakan tersebut apabila diselaraskan dengan nilai-nilai yang ada pada sila-sila Pancasila, adalah merupakan tindakan yang berlawanan.   Keberhaasilan  proses menghayati tidak bisa lepas dari seberapa jauh lamanya proses dan intensitas literasi ini dapat  berlangsung. Sehingga sudah bisa dipastikan  bahwa dalam upaya menanamkan nilai-nilai dimaksud haruslah dilakukan secara berkesinambungan dan  tidak pernah putus serta mudah diakses oleh banyak orang. Dengan kata lain  perlu dipikirkan dan upaya  lain agar semua orang yang ingin belajar dan ingin mengetahui serta mengetahui nilai-nilai yang ada pada sila-sila pancasila semudah orang memilih menu pizza yang ia sukai. 

 Bila kedua kata proses  tersebut dalam satu rangkaian kalimat di atas  telah dilalui prosesnya dengan baik yakni menanamkan dan menghayati maka sebagai tujuan akhir dari sebuah  harapan  yakni adanya pelaksanaan  nilai-nilai itu sendiri yang dilakukan oleh semua orang Indonesia.  Dengan kata lain actualisasi atau pengamalan nilai-nilai yang ada pada sila-sila Pancasila sudah merupakan gaya hidup berbangsa dan bernegara  manusia Indonesia di kehidupan sehari-hainya.  

Hal di atas merupakan  sebuah jawaban atas kondisi saat ini dimana persatuan dan kesatuan sedang diuji, kepedulian sedang diuji, toleransi umat beragama sedang diuji, mengesampingkan kepentingan individu atau kelompok melainkan mengutamakan kepentingan nasional sedang diuji, ekonomi kerakyatan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945  sedang diuji.  

Maka dalam akhir tulisan ini saya menyampaikan bahwa simbol ya, namun simbol saja tidak cukup melainkan harus dibarengi adanya  upaya lain seperti  upaya menanamkan,  penghayatan  serta mengamalkan nilai-nilai yang ada pada sila-sila Pancasila. akan lebih berdampak nyata di kehidupan sehari-hari  masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.   Wallahu alam bissawab  Bangkitlah bangsaku. 

  Pondok Cabe Udik, Rabu 02/06/2021

Penulis : Deni Nuryadin Dosen FEB UHAMKA