Iklan

KoranMu Indonesia
02 Mei, 2021, 14.27 WIB
Last Updated 2021-05-02T09:49:07Z
HeadlinePendidikan

Epistemologi Dan Teori Belajar: Yang Terlupa Di Pembelajaran Online



        Di momen hari Pendidikan pada 2 Mei 2021 ini, sesuai dengan tema yang dibawa oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta yaitu "Merdeka belajar dalam mewujudkan pendidikan tuntas dan berkualitas di DKI Jakarta", mari kita mengevaluasi kegiatan pembelajaran online yang telah dilaksanakan selama lebih dari setahun ini di Indonesia. Seringkali kita temukan keluhan baik dari guru, siswa, ataupun orang tua mulai dari cara mengajar guru sampai fasilitas yang kurang dimiliki siswa. Sebagai seorang guru, saya akan fokus membahas tentang keluhan cara pengajaran guru.


Penyebab dari masalah ini adalah kurangnya pemahaman guru tentang pembelajaran online. Guru seharusnya menyadari bahwa pembelajaran online memiliki metode dan strategi yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru seharusnya tetap memperhatikan cara mengajar yang efektif dengan menerapkan teori belajar yang tepat untuk mendukung pembelajarannya.


Dalam mata kuliah ICT, terdapat penjelasan tentang teori belajar dan kaitannya dengan teknologi yang dapat dipakai guru di dalam pengajaran di era digital ini. Pada Bab Dua buku Anthony Bates berjudul Teaching in a Digital Age, yang digunakan di mata kuliah ini, terdapat pembahasan mengenai epistemologi dan teori belajar. Epistemologi sendiri berhubungan dengan bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan, mulai dari sumber sampai metode yang nantinya digunakan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut. Epistemologi ini berhubungan dengan teori belajar yang akan digunakan guru. Adapun beberapa teori belajar yang dibahas yaitu Objectivisme, Behaviorisme, Cognitivisme, Cnstructivisme dan Connectivisme.


Lalu bagaimanakah penerapan epistemologi dan teori belajar pada pembelajaran online? Saya akan membagi situasi yang saya hadapi di pembelajaran online saya sebagai contoh pembelajaran yang akan dievaluasi epistemologi dan teori belajarnya.


            Saya memulai pembelajaran online saya dengan percaya diri karena merasa bahwa saya sudah menguasai materi-materi yang akan saya berikan. Saya berkomunikasi dengan siswa di setiap kelas melalui Whats App grup. Di minggu kedua pembelajaran online, saya mulai mendapat masalah utama yaitu cukup banyak siswa yang belum mengumpulkan tugas yang saya berikan. Maka saat video conference, saya mengingatkan siswa-siswa tersebut untuk segera mengumpulkan tugas mereka agar tidak mendapat sanksi dari saya. Setelahnya beberapa siswa mulai mengumpulkan walau masih ada juga yang belum.


Saya mencoba mengevaluasi dan mengatasi masalah ini dengan cara menurunkan standar yang biasa saya lakukan ketika pengajaran tatap muka dan juga mengaplikasikan ilmu yang saya dapat dari beberapa pelatihan yang saya ikuti, namun hasilnya tetap mengecewakan, sehingga saya menganggap siswa-siswa ini telah gagal dalam mengikuti pembelajaran saya di semester lalu karena tidak dapat memenuhi kompetensi yang diminta.


Ketika permasalahan ini terjadi lagi di semester ini, saya sedikit merubah strategi saya dengan menyampaikan bahwa waktu pengumpulan tugas berpengaruh pada nilai yang akan mereka dapatkan. Hasilnya, jumlah siswa yang tidak mengumpulkan tugas berkurang.


            Setelah saya mendapatkan materi epistemologi dan teori belajar pada mata kuliah ICT, berikut adalah hasil evaluasi saya pembelajaran online yang telah saya lakukan berdasarkan penjelasan dari buku Anthony Bates:


 1.   Dalam epistemologi, guru seharusnya memahami karakter dan kebutuhan siswa sebelum memutuskan metode yang tepat dalam pengajarannya. Hal inilah yang tidak saya lakukan di awal tahun ajaran, saya mengira bahwa semua siswa memiliki kemampuan yang sama tentang penggunaan teknologi di pembelajaran online ini. Namun kenyataannya ternyata masih ada siswa yang tidak mampu untuk mengirim email atau menggunakan Google classroom.Maka ketika saya sudah memahami kondisi siswa yang beragam, saya pun mengganti strategi pengajaran saya di semester ini.


2. Dari awal sampai akhir semester, seperti kebanyakan guru lainnya, saya lebih cenderung menggunakan teori Objectivisme dan Behaviorisme yang berfokus pada hasil atau kompetensi yang harus didapat siswa. Namun adanya sanksi dan reward, sebagaimana yang ada di teori Behaviorisme, cukup membantu saya merubah sedikit perilaku siswa terkait pengumpulan tugas.


3. Saya juga menerapkan teori Cognitivisme saat saya memberikan kesempatan pada siswa yang ingin bertanya tentang tugas yang kurang dimengerti melalui WA. Kebanyakan siswa lebih suka bertanya secara pribadi dibanding pada saat video conference. Siswa juga agak kurang antusias untuk mengikuti video conference. Padahal melalui video conference inilah saya memberikan penjelasan tentang materi yang saya berikan.

 

Jadi inilah peran epistemologi dan teori belajar dalam menciptakan pembelajaran online yang efektif. Berdasarkan epistemologi, jelas seorang guru haruslah memahami kebutuhan belajar serta karakteristik siswa selain tentu saja menguasai ilmu pengetahuan yang akan diberikan. Guru harus mengingat bahwa setiap siswa memiliki kemampuan dan keunikannya sendiri.


Setelah guru memahami epistemologi dari ilmu pengetahuan yang akan diberikannya, guru dapat menemukan teori belajar yang terbaik untuk diaplikasikan di kelasnya. Guru dapat mengkombinasikan beberapa teori belajar yang disesuaikan dengan kondisi kelas, fasilitas dan karakter siswa. Setelah itu semua, barulah guru dapat memutuskan teknologi apa yang paling tepat untuk mendukung dan digunakan di pembelajaran online nya. Guru dapat mengganti metode atau strategi pembelajarannya agar baik siswa ataupun guru tidak terbebani dengan pembelajaran online ini.


Sebagai penutup, seorang guru jangan sampai melupakan tugasnya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan berkualitas bagi siswa.


Penulis: Retno Puspitasari GURU SMAN 53 JAKARTA MAHASISWI PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA

Gambar: twizbone Dinas Pendidikan DKI Jakarta