Page Nav

HIDE

KoranMu.com

latest

Ads Place

Konsep Kepemimpinan Ihsan

Munculnya tata cara berpolitik dengan menggunakan  sistim demokrasi di Indonesia  Bermula semenjak awal kemerdekaan yang ditandai dengan ...


Munculnya tata cara berpolitik dengan menggunakan  sistim demokrasi di Indonesia  Bermula semenjak awal kemerdekaan yang ditandai dengan  dibentuk sebuah badan untuk memepersiapkan kemerdekaan republik Indonesia yang diberi Nama  BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang   beranggotakan 62 orang,  dimana saat itu  Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat diadulat sebagai ketua  dengan wakil ketua Ichibangase Yosio yang berkebangsaan Jepang  dan Raden Pandji Soeroso sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia,Sekaligus  sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.

Kemudian pada  Zaman orde lama yang menerapkan sistim demokrasi terpimpin dengan Soekarno sebagai tokoh utamanya dimana kaum  Nasionalis ,Agamis dan komunis tumbuh subur pada masa itu, setelah orde ini berahir muncul pula  Orde baru, dibawah kepemimpinan presiden Soeharto  gaya kepemimpinan yang  di kedepannkan adalah  sistem perwakilan dimana semua elemen organisasi politik dan kemasyarakatan harus menganut asas tunggal yaitu Pancasila

Kemudian pada era setelahnya yaitu masa  Refomasi hingga  sekarang  dimana  sistim demokrasi yang diterapkan membawa seluruh komponmen  di negeri ini  bebas berpendapat dan melakukan segala sesuatu asal sesuai dengan aturan yang sudah    ditetapkan melalui konstitusi yang sah untuk menjamin  proses  demokrasi berjalan lancar  demi  keutuhan bangsa dalam bingkai Negara kesatuan Republik indonesia (NKRI)

Dari segala macam perubahan dan perkembangan politik di Indonesia  banyak gaya kepemimpinan yang diterapakan kepada   rakyat Indonesia dari sabang sampai merauke, Perjalanan sejarah panjang itu tentu memberi dampak positif maupun negatif bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, akan tetapi  konsep apapun yang di praktekkan tentu akan  bermuara pada tujuan  negara Indonesia yang makmur  mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum yang  keadilan sosial  dan terwujudnya kedaulatan rakyat dan lainnya sebagaimana diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945  secara konsisten dan berkesinambungan .

Jika kita ingin  tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana termaktub dalam konstitusi kita itu bisa terwujud tentu dibutuhkan sistim dan kepemimpin yang mammpu menggerakan rakyatnya untuk melakukan banyak hal  dan berbuat yang terbaik untuk kepentingan  peradaban di negeri ini,   Sebagaimana pernah  diungkapkan oleh  Jacobs dan Jacques (1990) bahwa  Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.

Sistim Demokrasi  yang berkembang pesat di Indonesia  saat ini  yang menerapkan sistim pemilu dan pemilu kepala daerah secara langsung yang bertujuan untuk melahirkan pemimpin dan kepemimpinan yang sesuai dengan tujuan konstitusi kita yaitu  negara Indonesia yang makmur  mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum yang berkeadilan sosial   itu belum mampu diwujudkan  secara maksimal.

Seluruh pemangku kepentingan hendakanya  memepelajari dan mengupayakan berbagai cara dan melahirkan konsep yang sesuai dengan tujuan kita itu, Oleh karenanya  perlu pula  bagi semua pihak  mempelajari kembali  sebuah konsep kepemimpinan yang di  istilahkan sebagai Konsep kepemimpian Ihsan, konsep ini sebetulnya  sudah dikenal jauh sebelum berkembamnya sistim demokrasi di berbagai belahan dunia.

Ihsan itu berasal dari salah satu kata dalam  bahasa Arab yang berarti “terbaik.” atau “kesempurnaan” sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra.Pada suatu hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir“

Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan salat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan“.Orang itu kembali bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu“.Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya.Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah“.

Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“.
Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Panggillah orang itu kembali!“. Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka“.

Sementara konsep  Kepemimpinan yang pernah dikemukakan  Jacobs dan Jacques  adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. Jika kita   berkaca pada  realita yang terjadi dengan sistim yang kita terapkan hari ini,  ternyata  Praktek Demokrasi  yang ada di Indonesia merupakan sistim yang  cenderung perlu  mengeluarkan anggaran negara yang tidak sedikit  sebagai  contoh dalam pengambilan  beberapa   keputusan saja perlu melibatkan begitu banyak orang dan membutuhkan waktu dan biaya yang harus dainggarkan jauh-jauh hari, padahal sesunguhnya pengambilan keputusan bisa diambil dengan cara yang cepat dengan kajian yang bersifat musyawarah mufakat dan  Ilmiah, bukan berdasarkan suara terbanyak  karena ini  manyangkut hajat hidup banyak orang.

Jika konsep kepemimpian Ihsan bisa diterapkan Dalam politik   dan praktek ketata negaraan kita  di Indonesia dimana setiap pihak yang teribat dalam pengambilan keputusan dan Penentuan setiap kebijakan itu  menanamkan niat mencari Ridlo Allah Tuhan yang maha Esa  sebagai pencipta Alam semesta,  serta  menyadari bahwa apa yang dikerjakan adalah merupakan bentuk pengabdian kepada sang maha tinggi  untuk  kesejahteraan masyarakat dan bukan bertujuan mengabdi kepada kelompok atau pimpinan Partai politik dan kepentingan kelompok tertentu saja . Maka akan muncul Keyakinan atas segala perbuatan yang hendak dilakukan akan  disaksikan oleh ALLAH sehingga ia akan menajdi  benteng dari perbuatan yang akan merugikan rakyat walaupun mereka tidak melihat Allah  secara langsung, namun jika mereka menyadari dan meyakini  bahwa Allah menyaksikan dan  selau mendampingi apa yang dilakukan oleh manusia dalam aktifitas apapun, maka  Sistim apapun yang diterapkan di Indonesia sesunguhnya tidak akan ada  kebijakan yang berakhir pada kesengsaraan yang diderita oleh  Rakyatnya  bahkan saya meyakini Korupsi,Kolusi dan Nepotisme akan Terkikis secara perlahan dari Bumi pertiwi ini.

Secara umum  konsep kepemimpinan Ihsan Itu adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan Publik yang diputuskan walaupun dengan   mekanisme  politik namun harus  dilakukan dengan proses memberi arti terhadap usaha banyak pihak , yang  mengakibatkan kesediaan masyarakat untuk melakukan usaha yang diinginkan  untuk mencapai sasaran yang terbaik dan  sudah disempurnakan serta  tidak bertentangan dengan ajaran  agama manapun  yang diakui oleh konstitusi sebuah negara

Penulis : Pahman Habibi. SE.,MM. adalah Dosen Perilaku organisasi dan kepemimpian di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammdiyah Prof. Dr Hamka ( FEB UHAMKA)

Tidak ada komentar

Ads Place