NU dan Muhammadiyah Menyatu karena AGH Sanusi dan Kiai ... NU dan Muhammadiyah Menyatu karena AGH Sanusi dan Kiai Djamal, Dua Menara Kembar ...
NU dan Muhammadiyah Menyatu karena AGH Sanusi dan Kiai Djamal, Dua Menara Kembar Tak Terpisahkan
para analis menilai, karakter ber-NU dan ber-Muhammadiyah di Sulsel amat beda dari warga di Pulau Jawa.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dua ulama besar Sulawesi Selatan ini hanya terpaut usia tujuh tahun. Anre Gurutta Haji (AGH) Sanusi Baco AGH Sanusi lahir di Maros pada 4 April 1937 da n Kiai Haji (KH) Djamaluddin Amien dilahirkan di Sinjai tahun 1930.
Kiai Djamal sudah mendahului. Ulama kharismatik ini wafat pada Hari Minggu, 16 November 2014.
Baca: Kyai Djamaluddin Amien Dimakamkan Berdampingan Istri
Keduanya berkiprah di organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar. AGH Sanusi Baco berkiprah di Nahdlatul Ulama (NU) dan Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), sedangkan Kiai Djamal berkhidmat di Muhammadiyah.
Keduanya menjadi pemimpin di ormas Islam terbesar itu. Kiai Djamal pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulsel, sedangkan Gurutta Sanusi masih menjabat Ketua Dewan Syuriah NU Sulsel.
NU dan Muhammadiyah sudah mengakar di Sulsel. Tapi, para analis menilai, karakter ber-NU dan ber-Muhammadiyah di Sulsel amat beda dari warga di Pulau Jawa.
Baca: Kyai Djamaluddin Amien di Mata Anak dan Cucunya
Karakter NU dan Muhammadiyah di Sulsel tidak bisa dilepaskan dari ketelada nan Gurutta Sanusi dan Kiai Djamal.
Dua sosok inilah yang disebut Senator RI asal Sulsel AM Iqbal Parewangi sebagai menara kembar umat.
"KH Jamaluddin Amien berterima di NU. Anregurutta KH Sanusi Baco berterima di Muhammadiyah. Generasi baru NU dan Muhammadiyah harus saling berterima dan saling menerima,â ujar Iqbal dalam bedah buku âMenara Kembarâ di Rumah Makan (RM) Wong Solo, Makassar, Jumat (1/6/2018) sore.
Baca: KH Djamaluddin Amien
Buku Menara Kembar dimaksud adalah buku Setia di Jalan Dakwah-80 tahun Dr AGH Sanusi Baco Lc serta Kumpulan 100 Ceramah dan Kajian KH Djamaluddin Amien.
Iqbal lagi-lagi bertindak sebagai tuan rumah. âPenting saling berterima dan saling menerima itu. NU dan Muhammadiyah adalah sepasang rel dimana di atasnya kereta NKRI terjaga laju dan keseimbangannya," ujar Iqbal.
Halaman selanjutnya 123
Tidak ada komentar