'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu Kyi yang dicabut - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu Kyi yang dicabut

'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu Kyi yang dicabut

'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu K…

'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu Kyi yang dicabut

BBC 'Memdiamkan' kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, kian banyak penghargaan untuk Aung San Suu Kyi yang dicabut

Kota di Skotlandia membongkar tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi, di tengah kecaman keras bahwa ia 'membisu' soal kekejaman terhadap warga

Pemerintah kota Aberdeen, Skotlandia, memutuskan untuk membongkar tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi, di tengah kecaman keras bahwa ia 'membisu' soal kekejaman terhadap warga minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Pembongkaran dilakukan setelah dewan kota setuju untuk mengambil langkah tersebut.

Pembongkaran penghargaan untuk Aung San Suu Kyi diusulkan oleh anggota dewan kota Barney Crockett, yang mengatakan, "Saya kira tanda penghargaan ini diganti saja dengan penghargaan yang menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia."

Pemerintah kota Aberdeen membuat tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi atas permintaan organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, sepuluh tahun silam.

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 ketika menjalani tahanan rumah di Rangoon.

  • Krisis Rohingya: Apa yang dipergoki wartawan BBC di desa-desa yang terbakar
  • Krisis Rohingya: Seberapa berkuasa sebenarnya Aung San Suu Kyi?
  • Krisis Rohingya: Bagaimana akuntabilitas para penggalang dana bantuan masyarakat?

Hadiah diberikan kepadanya sebagai penghargaan atas upayanya mendorong demokratisasi dan penghormataan terhadap hak asasi manusia.

Setelah pemilihan umum di Myanmar pada 2015 ia diangkatkan menjad i penasehat negara, yang pada praktiknya adalah kepala pemerintahan sipil.

Dua tahun kemudian pecah gelombang kekerasan di negara bagian Rakhine setelah milisi Rohingya menyerang pos-pos polisi, menewaskan 12 aparat keamanan.

Merespons insiden ini, militer Myanmar menggelar operasi dengan dalih menumpas milisi Rohingya.

Aksi-aksi kekerasan pecah yang membuat masyarakat internasional menuduh aparat keamanan Myanmar membunuh warga Muslim dan membakar desa-desa mereka.

Halaman selanjutnya 12 Sumber: BBC Indonesia
BBC Ikuti kami di Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun Sumber: Google News Muslim Network: Koranmu Indonesia