Kebudayaan Islam sebagai Darul 'Ahdi Wasy Syahadah - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Kebudayaan Islam sebagai Darul 'Ahdi Wasy Syahadah

Yogyakarta- Aktivitas manusia yang dikomunikasikan dengan interaksi merupakan hasil dari gagasan, ide, cipta, rasa dan karsa dalam bentuk kebudayaan. Di dalamnya ada tata nilai sebagai manifestasi budaya manusia. Di Indonesia kea…



Yogyakarta- Aktivitas manusia yang dikomunikasikan dengan interaksi merupakan hasil dari gagasan, ide, cipta, rasa dan karsa dalam bentuk kebudayaan. Di dalamnya ada tata nilai sebagai manifestasi budaya manusia. Di Indonesia keanekaragaman budaya, agama, adat, dan suku telah terbingkai dalam Pancasila.

Pancasila sebagai nilai bersenyawa dalam kedaulatan kebudayaan Indonesia yang harus dijaga, dirawat dan dikembangkan. Demikian kebudayaan juga menjadi bagian dari jatidiri bangsa Indonesia yang didasari dari falsafah Pancasila.

Sebagai wujud menjaga kedaulatan budaya tersebut Lembaga Seni, Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah di Hotel Grand Daffam, Yogyakarta (28/11/2018), menggelar Simposium Kebudayaan dengan tajuk: Kebudayaan Islam sebagai Darul 'Ahdi Wasy Syahadah

Acara yang dipandu oleh Jandra selaku Wakil Ketua LSBO PP Muhammadiyah itu menghadirkan narasumber, yakni Prof. Dr. HM Amin Abdullah, guru besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam  UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.. selaku Ketua PP Muhammadiyah.

Dalam sambutannya, Ketua LSBO PP Muhammadiyah, Syukriyanto AR, mengatakan bahwa  Muhammadiyah memiliki strategi kebudayaan dalam gerakan dakwahnya. “Muhammadiyah menghargai hasil seni dan budaya yang melengkapi tradisi Islam. Untuk mewujudkannya dengan mengembangkan seni dan tradisi yang mengedepankan nilai-nilai Islam berkemajuan,” katanya

Sukriyanto menambahkan, LSBO sedang membuat film sebagai sarana dakwah. Film disamping menghibur juga efektif sebagai sarana berdakwah sehingga dapat diterima oleh semua kalangan.

Dalam perspektif yang lain, dihadapan seratus peserta yang hadir, Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.. selaku Ketua PP Muhammadiyah, mengungkapkan NKRI adalah hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa.

“Indonesia menjadi referensi, rujukan dan teladan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya. Adapun persoalan seni di Muhammadiyah sebenarnya sudah selesai sejak Muktamar Muhammadiyah pada 1995. “Jadi sudah tidak ada hambatan. Tapi seni tidak bisa dengan surat keputusan atau fatwa,” jelasnya.

Pandangan lain diungkapkan Prof. Dr. HM Amin Abdullah, guru besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam,  UIN Sunan Kalijaga Yogkarta. Menurutnya keanekaragaman di Indonesia tidak hanya suku, agama, ras dan golongan tetapi juga alam dan bencana yang menimpanya.

“Agama dan budaya bagaikan dua sisi mata uang. Berbeda tapi tidak bisa dipisahkan. Karena itu saling mengisi dan melengkapi,” jelasnya. Kebudayaan dalam peradaban suatu bangsa merupakan sarana untuk slaing melindungi dan menjaga eksistensi manusia.

Karena itu, agama dan budaya mengatur perilaku hidup agar interaksi manusia dapat melestarikan suatu budaya dan menjaga keseimbangan manusia dan alam.    

Sementara itu, penanggung jawab program symposium kebudayaan, Faozan Amar, menilai acara simposium kebudayaan ini salah satu tindak lanjut kerjasama antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (tr)