PR TB 'Aisyiyah Dorong Pemerintah dan Badan Amil Zakat Untuk Bantu Pasien TB - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

PR TB 'Aisyiyah Dorong Pemerintah dan Badan Amil Zakat Untuk Bantu Pasien TB

JAKARTA - Principal Recipient Tuberkulosis (PR TB) 'Aisyiyah mendorong pemerintah dan badan amil zakat untuk membantu pasien TB dalam pemberdayaan ekonomi bagi pasien TB agar bisa memiliki usaha untuk menopang kehidupan seha…


JAKARTA - Principal Recipient Tuberkulosis (PR TB) 'Aisyiyah mendorong pemerintah dan badan amil zakat untuk membantu pasien TB dalam pemberdayaan ekonomi bagi pasien TB agar bisa memiliki usaha untuk menopang kehidupan sehari-harinya. Hal ini menjadi fokus pada diskusi terkait  filantropi pada Selasa (13/11/2018) di Hotel Lumire kemarin.

AS PR TB 'Aisyiyah Dr. Rohimi Zamzam, S.Psi, S.H., M.Pd.Psikolog mengungkapkan, pasien Tuberkulosis (TBC) memiliki proses pengobatan sangat panjang hingga berbulan-bulan untuk TBC kategori TBC biasa saja butuh waktu hingga enam bulan pengobatan,  sedangkan untuk pengobatan TB MDR  pengobatanya butuh waktu hingga dua tahun.

Diakui Rohimi Zamzam selama proses itu diharapkan tidak DO atau terputus pengobatan, karena kalau terputus pengobatan bisa mengulang proses pengobatan dan bisa mengakibatkan penyakit TBC makin parah.

"Dalam proses pengobatan yang panjang itu secara psikis hal yamg dialami pasien tidak sekedar merasa jenuh,  merasa sangat berat, dan ada rasa lelah dengan kondisinya. Selain itu aspek lain adalah faktor kemampuan ekonomi,  dorongan keluarga atau kebutuhan mencari nafkah untuk keluarga,  karena pasien TB selain berobat pasien juga bagi yang bekerja  mencari nafkah untuk kehidupanya" jelas Ibu Rohimi Zamzam, di Kantor PR TB 'Aisyiyah  (15/11/2018).

"Jika pasien dari kalangan orang mampu tentu permasalahan ekonomi tidak begitu menghambat proses pengobatan namun persoalannya dari kalangan pasien yang ekonominya sulit untuk kebutuhan sehari hari saja harus bekerja,  di sinilah akan mengganggu proses pengobatanya" ungkapnya

Di sinilah  butuh sinergi peran baik oleh Pemerintah dan lembaga filantropi seperti Baznas,  Lazismu,  Lazisnu dan lembaga zakat lainya untuk membangun ekonomi pasien dan mantan pasien TBC agar mampu menghidupi keluarganya sehingga proses pengobatanya tidak terganggu. 

Rohimi Zamzam mengungkapkan penderita TBC di Indonesia kini di posisi ke 2 tertinggi, ini menjadi perhatian serius selain proses pengoba tan yang butuh waktu lama kuman Tuberkulosis juga menular sehingga butuh perhatian serius kita semua,  pungkasnya.