Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Mereduksinya Kemampuan dan Motivasi Wirausaha Mahasiswa UMS

Data Minat Berwiraausaha Mahasiswa UMS Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari perniagaan artinya ...

Data Minat Berwiraausaha Mahasiswa UMS


Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari perniagaan artinya di sini tuhan coba memberikan sebuah motivasi kepada umatnya untuk dapat mandiri dalam membuka pintu rezeki. allah pun coba menegaskan hal tersebut di dalam Al Quran Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ayat itu kemudian menjelma menjadi suatu kalimat motivasi bagi para pengusaha muda untuk berusaha membuka sebuah perdagangan dan juga mengubah nasib mereka. Dalam perspektif mengubah roda nasib ini, saya juga terpikir tentang apa yang di katakan Sutan Sjahrir “hidup yang tidak di pertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Artinya secara motivasi setiap orang di arahkan untuk mampu membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Dan dalam sistem pemerintahan Indonesia pun juga mulai gencar dalam mengarhkan rakyat dalam pengembangan usaha mikro agar mampu membuka lapangan pekerjaan dan dapat menurunkan tingkat pengangguran. Namun semua motivasi dan juga wacana kemandirian ekonomi itu seolah hanya menjadi sebuah tujuan yang utopis karena pada realitanya rakyat belum mampu membuka peluang untuk membangun sebuah kerajaan bisnis dan terkesan terjerumus dalam lingkaran ketidak berdayaan.

Banyaknya generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke fakultas ekonomi pada akhirnya belum mampu menjadi pencerah dalam misi memandirikan bangsa. Banyaknya mahasiswa ekonomi yang lulus berbanding terbalik dengan lulusan fakultas ekonomi yang membuka usaha sendiri. Pada akhirnya idealisme mahasiswa ekonomi harus terkubur oleh realita, mereka lebih mencari aman dengan mencari pekerjaan di bandingkan mempertaruhkan hidup mereka dengan mencoba membuka sebuah kerajaan bisnis. Dalam sebuah penelitian yang di buat oleh LEPMA (Lembaga Pengmbangan Mahasiswa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta mencoba membuka tabir bagaimana minat dari mahasiswa ekonomi terhadap minat berwirausaha.

Penelitian tersebut di kaji karena keresahan yang coba di ungkap oleh LEPMA yang melihat fenomena dari lulusan fakultas ekonomi dan bisnis ums lebih terhegemoni oleh iming-iming kesejahteraan PNS ketimbang menjadi bos dari usaha mereka sendiri. Malas, takut gagal dan tidak berani mengambil resiko menjadi dasar melemahnya jiwa berwirausaha terutama bagi mahaiswa, itulah latar belakang yang di usung dari LEPMA untuk memulai pengkajian dalam melihat semangat wirausaha di kalangan mahasiswa Ekonomi UMS. Menurut Geoffrey G. Meredith (1992) mengatakan bahwa para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses.

Melalui pemikiran tersebut dapat di identifikasi kemampuan berwirausaha melalui insting dan ratio seseorang dalam melihat peluang dan mengambil peluang tersebut. Dalam penelitia dari LEPMA terlihat bahwa keinginan dan kesadaran mahasiswa ekonomi dalam berwira usaha sangat tinggi mencapai 80% namun kemudian yang berani mengambil resiko turun menjadi 62 % artinya ada 18 % dari mahasiswa yang kemudia tidak percaya diri dalam mengambil resiko gagal dalam berwirausaha. Dan dalam kemampuan dasar berwirausaha yaitu penguatan jaringan sebesar 44,67 % mahaiswa merasa tidak mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi orang lain. Di samping itu dalam melihat peluang 38,66% mahasiswa merasa dirinya tidak mempunyai kepekaan dalam melihat peluang usaha dan sebesar 38,67 tidak mengerti dalam penyusunan keuangan bisnis. Namun dengan beberapa data yang pesimis dalam melihat kemampuan berwirausaha, saya melihat secercah harapan melalui idealism mahasiswa yang secara fundamental masih mempunyai hasrat untuk mandiri. Dalam penelitian LEPMA sebesar 67,33 % berkeinginan untuk menikmati penghasilan sendiri dan terdapat satu sikap optimis dari mahasiswa sebesar 78,66 % merasa mempunyai kemampuan untuk berwirausaha. Menurut saya dalam masa memasuki jenjang pendidikan awal perkuliahan mahasiswa masih mempunyai idealism yang membara dalam meraih sukses secara mandiri, namun kemudian terdapat suatu hal yang kemudian membuat hasrat mereka runtuh dan menyisakan kepasrahan dalam menjalani hidup.


Dalam permasalahan ini saya melihat satu fenomena bahwa dalam pola pendidikan di Indonesia masih memaksa ikan untuk belajar memanjat, artiya dalam pola pendidikannya mahasiswa tidak mampu di arahkan dalam melihat peluang ataupun berinovasi dalam menyikapi tantangan global. Mahasiswa jusru di arahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tidak untuk menguasai pasar justru menjadi pelayan bagi elite ekonomi. Hal ini yang coba di kritik di dalam buku Sekolah itu Candu yang mengatakan bahwa mahasiswa di giring dalam persaingan dan sistem nilai omong kosong yang membuat mahasiswa berkompetisi namun tidak bekerjasama menciptakan inovasi. Mahasiswa terlalu sibuk bergulat mengejar nilai sehingga mereka kehilangan kemampuan dalam penerapan teori-teori yang ada sehingga membuat mahasiswa menjadi miskin wacana.

Meskipun terdapat mata kuliah kewirausahaan namun tidak ada follow up jangka panjang yang coba di bangun untuk mengenalkan wirausaha kepada mahasiswa. Dan mata kuliah itu pada akhirnya hanya sebuah praktik jangka pendek yang tidak mampu menstimulan mahasiswa untuk berwirausaha. Dalam kesimpulan yang di tarik dari penelitian LEPMA sebesar 87,068 % mahasiswa FEB UMS merasa mempunyai kemampuan dan motivasi dalam berwirausaha, dan 12,934 merasa tidak mempunyai kemampuan dalam berwirausaha. Dalam menyikapi hasil penelitian itu perlu adanya perbaikan dalam muatan pendidikan yang di selenggarakan oleh lembaga pendidikan untuk mampu menjaga semangat dan motivasi dari mahasiswanya dan terlebih lagi meningkatkan kemampuan dan motivasi mahasiswa feb untuk mampu berwirausaha dan tidak terjebak dalam teori-teori ekonomi namun mampu masuk ke dalam sosio-cultur masyarakat dan mampu membantu pemerintah dalam pemerataan perekonomian melalui usaha mikro.

Artikel ini ditulis oleh Lembaga Pengembangan Mahasiswa UMS

ISSN Koranmu.com