IMM & Kemanusiaan: Sebuah Upaya Membangun Filantropi Ikatan - KoranMu
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

IMM & Kemanusiaan: Sebuah Upaya Membangun Filantropi Ikatan

Filantropi Ikatan (Ontologi) Sebuah dasar akan kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia. Itu menjadi akar yang membuat manusia untuk berfikir, bergerak atas dasar tubuh nya. Begitu pula pada tubuh IMM, persoalan dasar menjadi ku…


Filantropi Ikatan (Ontologi)
Sebuah dasar akan kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia. Itu menjadi akar yang membuat manusia untuk berfikir, bergerak atas dasar tubuh nya. Begitu pula pada tubuh IMM, persoalan dasar menjadi kunci berjalannya ikatan. Filantropi jika diartikan dalam (Bahasa Yunani; philein = cinta), kemudian anthropos berarti manusia. Jadi, upaya manusia yang seyogianya melakukan sebuah tindakan kemanusiaan (memanusiaan manusia), dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dibangun. Sehingga, pada tatarannya akan muncul akhlak yang kemudian ditampilkan di masyarakat.
Filantropi sebagai fondasi utuh kemanusiaan yang universal menjadi  perhatian kader IMM. Artinya, kader IMM memiliki dasar kekuatan yang berlandas pada nilai-nilai religus; penerapan Teologi Al Maun, Q.S. Al Imran: 110 sebagai landasan perjuangan gerakan sosial IMM.
IMM Filantropi adalah gagasan dari proses implementatif-konstruktif yang berbicara atas dasar perilaku kader IMM dalam mengemban amanah sebagai kader umat, dan kader bangsa,  sekaligus manifestasi dari nilai sosial IMM. Inilah yang kemudian perlu diresapi sebagai gerakan nyata nya IMM dalam upaya mewujudkan visi khoiru ummah.
Filantropi Ikatan (Aksiologi)
Kader IMM dapat menjadi teladan/contoh di sekitar Mulai dengan kesadaran meningkatkan akhlak yang mulia. Sebab, kader IMM seyogianya menampilkan dirinya dengan berperilaku santun, ramah, toleran, orientasi masa depan, tidak mudah mengeluh, mudah bekerjasama, rendah hati, arif dalam segala hal, membangun sikap simpati-empati, rasa tolong menolong, peduli, dan memiliki semangat juang fastabiqul khairat dalam setiap langkahnya. Dengan spirit akhlak mulia itulah yang akan timbul sikap kepekaan sosial. Kepekaan sosial dapat hadir dalam diri kader, kemudian melakukan kajian-kajian sosial, dan merancang gerakan sosial yang sesuai dengan situasi-kondisi lingkungannya. 
Proses tersebut adalah kunci Filantropi IMM. Kader IMM saat ini harus memberikan pengaruh positif, dan sebagai lokomotif perubahan, atau bahkan sumber solusi di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga, dengan semangat, ikhtiar, usaha, IMM menjadi memasyarakat wajahnya, dan akan menampilkan keindahan dan keanggunan dalam balutan kedewasaan bersikap, kejernihan berfikir dan bertindak.
Filantropi Ikatan merupakan respons atas keresahan-kegundahan, atau gugatan untuk kemudian menggiatkan gerakan sosial IMM, berupa memahami dan memaknai pendewasaan berperilaku (akhlak mulia), mengkaji dengan konsisten dan serius perihal wacana-wacana gerakan sosial yang relevan, kemudian dipraktikan dalam kehidupan. 
Inilah sebagai wujud dari penerapan Trilogi IMM yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, serta bentuk dinamisasi (utamanya gerakan sosial) di IMM. Dan juga ini sebagai proses pendewasaan dalam berperilaku kader IMM dalam menjalani ikatan. Proses tersebut dimulai dari renungan, hingga penerapannya ditengah kehidupan. Yang kemudian diwujudkan pengamalan yang solutif, menggembirakan, dan mencerahkan, sehingga IMM mampu menampilkan wajah yang cerah dan bersahaja dengan kedermawaan-nya di tengah kompetesi global yang demikian kompleks.
Terlebih diusianya ke 54 tahun, kader IMM harus memiliki kesadaran etis, dan kesadaran filantropi ini, agar keberlanjutan tongkat perjuangan dalam membawa misi Muhammadiyah dapat terealisasi, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga, upaya-upaya yang sebetulnya dekat sekali dengan kita ini yakni, sosial kemasyarakatan menjadi perilaku kebaikan yang akan tersemat dalam diri kader dan menjadi suatu kebiasaan dalam rangka terciptanya kehidupan sosial yang diharapkan. 
Demikian, Founding father IMM ini menitipkan IMM agar menjadi organisasi kemahasiswaan Islam yang tidak berjibaku pada kepentingan seremonial yang minim refleksi mendalam, namun pada tataran pergerakan sosial yang menjadi salahsatu perhatian IMM. Hal ini guna mewujudkan harapan-harapan dan kekuatan baru dalam membangun peradaban yang mencerahkan.
Menerangi setiap jalan walau (mungkin) sunyi, walau lampu tersebut kecil atau bahkan redup, namun dengan ikhtiar kepedulian terhadap kemanusiaan, akan mampu memberikan cahaya dari jalan-jalan sunyi itu. Yang kemudian dari situ dapat menyikapi atau meminimalisir berbagai persoalan yang muncul dipermukaan. Wallahu A'lam Bishawab.
Penulis
Bayujati Prakoso
bayujp21@gmail.com
089660595335