Iklan

KoranMu Indonesia
29 Juli, 2018, 07.12 WIB
Last Updated 2018-07-29T00:12:04Z

Kaum yang Membaca Al-Qur'an Hanya Sampai Tenggorokan

Kaum yang Membaca Al-Qur'an Hanya Sampai Tenggorokan

Pada zaman Nabi Muhammad, setelah perang Hunain, umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah) yang banyak. Dapat sapi, unta, kemudian dibagi-bagi di Ja’ronah. Namun, baru kali ini Nabi membaginya secara aneh, para sahabat Nabi yang senior tidak mendapat bagian. Hanya para mualaf (orang yang baru masuk Islam) yang mendapatkannya.
Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah SWT. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya.
Namun, tak dinyana, ada orang yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir.
“I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” begitu kira-kira protesnya.
“Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad.
Orang itu kemudia pergi.
Nabi Muhammad mengatakan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan.
“Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad.
Tahun 40 H Sayidinia Ali bi Abi Thalib dibunuh bukan oleh orang kafir, melainkan orang Muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an.
Ali dibunuh karena dianggap kafir. Pasalnya Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah. Sang pembunuh menggunakan ayat Waman lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun sebagai sandaran perbuatannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ÙŠÙŽØ®Ù'رُجُ نَاسٌ مِنÙ' قِبَلِ الÙ'Ù…ÙŽØ´Ù'رِقِ ÙˆÙŽÙŠÙŽÙ‚Ù'رَءُونَ الÙ'قُرÙ'آنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمÙ' ØŒ ÙŠÙŽÙ…Ù'رُقُونَ مِنَ الدÙ'ِينِ كَمَا ÙŠÙŽÙ…Ù'رُقُ السÙ'ÙŽÙ‡Ù'مُ مِنَ الرÙ'َمِيÙ'َةِ ØŒ ثُمÙ'ÙŽ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتÙ'ÙŽÙ‰ يَعُودَ السÙ'ÙŽÙ‡Ù'مُ إِلَى فُوقِهِ
“Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya” (HR. Bukhari)
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dari kelompok orang ini (orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An-Najdi), akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mere ka seperti musnahnya kaum ‘Ad.” (HR Muslim 1762)
Kalimat “mereka yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan atau tenggorokan” adalah kalimat majaz . “Tidak melewati kerongkongan” kiasan dari “tidak sampai ke hati”. Artinya membaca Al-Qur’an, tapi tidak menjadikan mereka berakhlakul karimah. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)
Begitu pula kalimat yang artinya tidak sampai melewati batas tenggorokan adalah kalimat majaz. “Tidak sampai melewati batas tenggorokan” kiasan dari “tidak sampai ke hati” artinya tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar. (Abdullah Alawi)
Sumber: Google News Network: Koranmu Indonesia