Page Nav

HIDE

KoranMu.com

latest

Ads Place

AI Memang Pintar, Tapi Bisakah Ia Mengajari Mahasiswa Cara Berpikir

Ai Memang Pintar, Tapi Bisakah Ia Mengajari Mahasiswa Cara Berpikir Koranmu.com - Ketika algoritma menggantikan diskusi, bayangkan seorang...

Ai Memang Pintar, Tapi Bisakah Ia Mengajari Mahasiswa Cara Berpikir
Ai Memang Pintar, Tapi Bisakah Ia Mengajari Mahasiswa Cara Berpikir

Koranmu.com
- Ketika algoritma menggantikan diskusi, bayangkan seorang mahasiswa yang tengah menghadapi deadline tugas. Ia menyalakan laptop, memasukkan pertanyaan ke aplikasi berbasis AI, dan dalam sekejap jawaban rinci muncul. Tugas menjadi lebih ringan, waktu lebih efektif, dan stres berkurang. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah mahasiswa benar-benar belajar berpikir, atau hanya menerima hasil dari algoritma?Fenomena ini semakin terlihat di zaman digital. AI memang bisa mengolah data dengan cepat, tetapi proses pembelajaran bukan hanya soal menemukan jawaban. Belajar merupakan proses mengembangkan logika, mempertanyakan dugaan, dan membentuk pemahaman lewat interaksi antarmanusia. Saat mahasiswa sangat bergantung pada mesin, ada kemungkinan bahwa kemampuan berpikir kritis akan diambil alih oleh kenyamanan yang instan. Di tahap ini, pendidikan dapat kehilangan arti sesungguhnya: menciptakan individu yang berpikir, bukan hanya individu yang menerima informasi.

Dialog yang Hilang di Ruang Kelas

Dalam teori komunikasi dialogis, Michael L. Kent dan Maureen Taylor menekankan bahwa dialog adalah proses saling mendengarkan dan memengaruhi. Pendidikan sejatinya adalah ruang dialog: antara dosen dan mahasiswa, antara teks dan pembaca, antara gagasan dan pengalaman. Namun, kehadiran AI sering kali menggeser ruang dialog tersebut.

Di banyak kampus Indonesia, mahasiswa kini lebih sering bertanya pada mesin daripada berdiskusi dengan dosen atau teman sekelas. Jawaban AI memang rapi dan sistematis, tetapi tidak selalu membuka ruang perdebatan. Akibatnya, proses belajar berisiko berubah menjadi konsumsi informasi, bukan pertukaran makna. Mahasiswa mendengar, tetapi tidak merasa didengar; mereka hadir, tetapi tidak merasa terlibat. Diskusi kelas yang seharusnya menjadi arena pertukaran gagasan berubah menjadi formalitas, karena mahasiswa lebih percaya pada jawaban instan daripada proses berpikir bersama.

Ketika Pengetahuan Bukan Sekadar Informasi

Pengetahuan bukan sekadar kumpulan data yang bisa diringkas dalam paragraf. Ia adalah pengalaman, refleksi, dan pemaknaan. Seperti yang diingatkan Martin Buber dalam konsep I-Thou, hubungan manusia dengan pengetahuan seharusnya bersifat dialogis, memandang subjek sebagai pribadi dengan nilai dan martabat. Sebaliknya, ketika mahasiswa hanya memandang AI sebagai sumber jawaban, hubungan itu berubah menjadi I-It: pengetahuan diperlakukan sebagai objek yang bisa dipakai tanpa keterlibatan emosional maupun intelektual.

Contoh nyata terlihat dalam penulisan skripsi. Banyak mahasiswa menggunakan AI untuk menyusun kerangka teori atau merangkum literatur. Hasilnya memang cepat, tetapi sering kali dangkal. Mereka tahu “apa” yang harus ditulis, tetapi tidak memahami “mengapa” hal itu penting. Mereka bisa menyusun argumen, tetapi tidak merasakan proses intelektual yang melahirkan argumen tersebut. Padahal, pendidikan sejati bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang perjalanan berpikir yang membentuk karakter.

Kasus di Kampus Indonesia

Fenomena penggunaan AI di dunia pendidikan tinggi tidak hanya terjadi di kampus-kampus besar seperti UI atau UGM, tetapi juga mulai terasa di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Di lingkungan kampus ini, mahasiswa dari berbagai program studi, khususnya Ilmu Komunikasi dan Pendidikan, mulai memanfaatkan aplikasi berbasis AI untuk menyelesaikan tugas kuliah.

Dalam beberapa mata kuliah, dosen menemukan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan AI untuk membuat analisis media, menyusun makalah, atau merangkum teori komunikasi. Hasilnya memang tampak rapi dan sistematis, tetapi ketika diuji dalam diskusi kelas, banyak mahasiswa kesulitan menjelaskan logika di balik tulisan mereka. Mereka bisa membaca ulang hasil AI, tetapi tidak mampu mempertahankan argumen ketika ditanya lebih jauh. Hal ini menunjukkan bahwa AI sering kali hanya menjadi “jalan pintas” untuk menyelesaikan tugas, bukan sarana untuk mengasah nalar kritis.

Pemerintah sendiri menyadari fenomena ini. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meluncurkan Panduan Penggunaan Generative AI di Perguruan Tinggi pada 2024–2025. Panduan ini menekankan bahwa AI harus digunakan secara etis, tidak menggantikan peran manusia, dan tetap menjaga integritas akademik. Risiko seperti plagiarisme dan menurunnya kemampuan berpikir kritis menjadi perhatian utama.

Di beberapa universitas, AI mulai dipakai sebagai alat bantu. Dalam kelas metodologi penelitian, mahasiswa diminta menggunakan AI untuk mencari referensi awal, tetapi kemudian harus mendiskusikan hasilnya dalam kelompok. Dengan cara ini, AI menjadi pintu masuk untuk memperluas wawasan, sementara proses berpikir kritis tetap dijaga melalui diskusi tatap muka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI bisa menjadi mitra yang memperkaya pembelajaran, asalkan digunakan dengan bijak.

Membangun Kecerdasan atau Kemandirian?

AI memang membantu mahasiswa mengakses pengetahuan lebih cepat, tetapi keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah tugas yang selesai. Pendidikan harus diukur dari sejauh mana mahasiswa mampu berpikir mandiri, mempertanyakan jawaban, dan membangun kepercayaan pada proses intelektualnya sendiri.

Ketika mahasiswa merasa dilibatkan dalam proses intelektual, mereka lebih mungkin menerima AI sebagai mitra, bukan pengganti. Sebaliknya, ketika mereka hanya menjadi penerima jawaban, pendidikan berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi rapuh secara intelektual. Di sinilah peran dosen menjadi krusial: bukan sekadar penyampai informasi, melainkan fasilitator dialog yang mengarahkan mahasiswa untuk mengkritisi, membandingkan, dan memperdalam hasil yang diperoleh dari AI.

Kesimpulan

Pertanyaan besar bukanlah apakah AI bisa menggantikan dosen atau mahasiswa, melainkan apakah AI bisa membantu mereka berpikir lebih baik. Jawabannya bergantung pada bagaimana kita memposisikan teknologi dalam pendidikan. AI memang pintar, tetapi ia tidak bisa menggantikan proses dialogis yang membentuk nalar kritis. Pendidikan yang sejati bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi juga tentang membangun nalar yang tidak pernah berhenti bertanya.

Rel kereta mungkin mampu menghubungkan kota dengan bandara, tetapi hanya komunikasi yang dialogis yang mampu menghubungkan kepentingan negara dengan kebutuhan warganya. Begitu pula, AI mungkin mampu menghubungkan mahasiswa dengan informasi, tetapi hanya dialog yang mampu menghubungkan mereka dengan pemahaman. Sebab pendidikan yang sejati bukan hanya tentang membangun jalan menuju masa depan, tetapi juga tentang membangun nalar yang tidak pernah berhenti bertanya.

REFERENSI

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2024–2025).

Kompas, “Pedoman Pemanfaatan GenAI untuk Perguruan Tinggi Diluncurkan” (11 Oktober 2024).

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, SKB 7 Menteri tentang Pemanfaatan AI dalam Pendidikan (12 Maret 2026).

PENULIS
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka
Abdul Hafidz Mudawwamul Husna, Daffa Mozard Vanhel Wakkary



Tidak ada komentar

Ads Place